yanti's Homepage
 

Journal

Wednesday,Jul 29 2009, 02:56:39 AMPERCAYALAH SAMA PASANGAN KITA

Uh...
menharukan....- nangis ne bacanya..
pelajaran buat kita semua..---->
Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta
> kita..
> Aku menjadi perempuan yg paling bahagia..... .
> Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah......
> Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu.
> Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula
> Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.
> Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami
> berpacaran
> Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah
> suci....
> Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan
> aku.... Sangat
> terlihat rasa cinta dan sayangnya pada
> ku..
> Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat
> terlihat
> sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah
> dengannya.
> ************ ********* ********* ********* *********
> 5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu
> berjalan, walaupun
> kami hanya berdua saja.
> Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang
> malaikat
> kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
> Karena dia anak lelaki satu - satunya dalam keluarga
> nya,,jadi aku harus
> berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya...
> Alhamdulillah suamiku mendukung ku.... Ia mengaggap Allah
> belum
> mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.
> Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu
> & adiknya
> tidak menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak
> menyenangkan
> dari mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku......
> didepan suami ku,,mereka sangat
> baik pada ku,,tapi dibelakang suami
> ku,,aku dihina - hina oleh mereka....
> Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku
> mengalami
> kecelakaan,, , mobilnya hancur
> Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir
> membuat ku menjadi
> seorang janda.
> Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan
> diri,,aku selalu
> menemaninya siang & malam, kubacakan ayat - ayat suci
> Al - Qur'an,aku
> sibuk bolak - balik rumah sakit dan tempat aku melakukan
> aktivitas
> sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karean
> kecelakaan.
> Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah
> kami,,aku melihat
> didalam kamarnya ada ibu, adik - adiknya dan teman - teman
> suamiku, dan
> satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab
> dengan ibunya.
> Mereka tertawa menghibur suamiku.
> Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis
> ketika melihat
> suami ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di
> depannya.
> Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan
> "Assalammu'alaikum"
> mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan
> pintu dan mereka
> semua melihatku,,, suamiku menatapku penuh manja,,mungkin
> ia kangen
> padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.
> Tangannya
> melambai,,mengisyar atkan aku untuk memegang tangannya yg
> erat. Setelah
> aku menghampirinya, ku cium tangannya sambil berkata
> "Assalammu'alaikum", ia pun menjawab salam ku
> dengan suaranya yg lirih
> tapi penuh dengan cinta.
> Aku pun senyum melihat wajahnya.
> Ibu nya lalu berbicara sama aku ...
> "Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri"
> Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya
> pernah
> mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat
> akrab dengan
> keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya
> juga.
> Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku
> biacara di
> dalam ruangan,,aku tak
> mengerti apa yg mereka bicarakan.
> Aku sibuk membersihkan & mengobati luka - luka di
> kepala suamiku,,,baru
> sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba - tiba adik ipar ku
> yg bernama
> Dian mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin. Dan
> suamiku pun
> mengijinkannya. Aku pun menemaninya.
> Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata " lebih baik
> kau pulang saja "
> Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja.
> Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan
> alasan abang
> harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih
> labil,, Aku
> berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada
> suamiku, tapi
> tiba - tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia
> mengatakan hal yg
> sama, ia akan memberi alsan pada suamiku mengapa aku pulang
> tak pamitan
> pada nya, toj suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik
> ibunya salah
> suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi
> meninggalkan
> rumah sakit
> itu dengan linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak
> pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari
> rumah sakit.
> Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis
> mengapa mereka
> sangat membenciku.
> ************ ********* ********* ********* *********
> Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku
> takut
> kehilangannya, aku takut cintanya dibagi denagn yang
> lain. Pagi itu,
> pada
> saat aku membersihakn pekarang rumah kami, suamiku
> memanggil ku ke taman
> belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk
> di ayunan
> favorit kami, sambil melihat ikan - ikan yang bertaburan di
> kolam air
> mancur itu.
> Aku bertanya " Ada apa kamu memanggil ku ?"
> Ia berkata " Besok aku akan menjenguk keluargaku di
> Sabang "
> Aku menjawab " Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi
> barang - barang
> kamu di travel bag dan kamu sudah pegang
> tiket bukan ?"
> "Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku
> disana, aku juga
> sdh lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita
> menikah dan
> aku kan pulang dengan mama ku " Jawab nya tegas
> "Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja
> kamu disana ?" tanya
> ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit
> rasa kecewa
> karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu,
> padahal aku
> bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
> " Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti
> " jawab nya tegas
> " Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena
> nanti kita 3 minggu
> tidak bertemu, ya kan ?" lanjut nya lagi sambil
> memeluk ku dan mencium
> keningku.. Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak
> boleh aku
> tunjukkan pada nya.
> Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa
> sayang &
> cintanya.
> Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
> Aku
> hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama
> suamiku, tapi
> karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka
> cemburu pada ku
> karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar
> ia saja yg
> pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran
> anggaran rumah
> tangga kami.
> Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh
> keluarga nya
> harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya
> harus datang
> atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat
> senang, aku pun tak
> mau membuat riuh keluarga ini.
> Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan
> keperluannya
> yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus
> airmata yang
> jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini
> bergumam seakan
> terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
> Aku hanya
> bisa
> menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
> Aku tidak pernah di tinggal pergi selama
> ini, karena kami selalu bersama
> - sama kemana pun ia pergi.
> Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya
> teman, hanya
> pembantu saja teman ngobrolku.
> Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.
> Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi
> kepergiannya.
> Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi
> aku tak
> boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia
> pasti akan
> selalu menelpon ku.
> ************ ********* ********* ********* *********
> ********* *********
> ********* ********* ********
> Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa
> sendiri.
> Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis,
> jadi aku tak
> terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.
> Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami
> buruk,saat ia di sana
> aku pun jatuh sakit...rahimku sakit sekali seperti dililit
> oleh
> tali,,,tak tahan aku menhan rasa
> sakit dirahimku ini,sampai - sampai aku
> mengalami pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh
> adik laki -
> lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis
> aku terkena
> kanker mulut rahim stdium 3.... Aku menangis,,apa yang bisa
> aku
> banggakan lagi,,mertuaku akan semakin menghinaku,, ,suami
> ku yang malang
> ,,yang berharap akan punya keturunan dari rahimku... Aku
> tak bisa
> memberikannya
> keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.
> Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia
> pulang, aku
> tak tahu..
> Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu
> marah - marah
> jika menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika
> ia selalu
> marah - marah terhadapku,,
> Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya
> khawatir
> selama ia berada di Sabang.
> Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang,
> aku akan
> cerita pada nya.
> Setiap hari aku menanti suami ku
> pulang, hari demi hari aku hitung....
> Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku
> sedang melihat
> foto
> - f oto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang
> masuk.
> Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms,
> ia menulis
> "aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya
> satu hari lagi, aku
> aku kabarin lagi".
> Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku
> pendam saja
> ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku
> menantinya di
> rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik
> dan memakai
> parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku
> akan
> menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir -
> akhir ini.
> Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap
> salam,
> sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap
> berdiri, aku
> membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci
> kedua kakinya,
> aku tak mw ada
> syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku
> pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya
> Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik
> keatas, ia
> langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..
> Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera
> merapikan bawaan
> nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam,
> mengingatkan
> aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
> Biasa nya kami selalu berjama'ah, tapi karena melihat
> nya tidur sangat
> pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya,
> aku cium kening
> nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3
> raka'at.
> ************ ********* ********* ********* *********
> ********* ********* ***
> Aku mendengar suara mobinya, aku terbangun lalu aku liat
> dia dari balkon
> kamar kami dia bersiap - siap untuk pergi, aku memanggil
> nya tapi ia
> tak
> mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari
> atas ke bawah
> tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku
> mengejarnya tapi
> ia begitu cepat pergi,,ada apa dengan suamiku...mengapa ia
> sangat aneh
> terhadapku ?
> Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu.
> Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku,
> kebetulan Dian
> yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa
> yang terjadi
> dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab "Loe pikir
> aja sendiri !!!"
> telpon pun langsung terputus.
> Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa
> suamiku
> berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa
> ia tak mau
> berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.
> Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah
> melepas
> tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara
> seperlunya saja,
> aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa
> pulang
> terlambat,
> ia bertanya denagn nada yg keras, suamiku telah berubah.
> Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya
> berzina dengan
> mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang
> telah menuduhku
> serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun
> salahnya seorang
> suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku
> pegang, aku
> hanya berdo'a agar suamiku sadar akan prilakunya.
> *******
> 2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis
> tiap malam,
> lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang
> baru saja
> kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna,
> walaupun
> kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya &
> menyiapi segala
> yang ia perlukan.
> Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak
> pernah bertanya
> obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna,
> harapan menjadi ibu
> pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan
> berakhir.
> Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari
> aktifitasku sebagai
> seorang guru ngaji jadi aku tak perlu repot - repot meminta
> uang pada
> nya
> hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat
> semampuku.
> Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang
> telah menjadi
> orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk
> berpikir
> sendiri.
> Tiba - tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai,
> suamiku
> memanggilku.
> "ya ada apa Yah !" sahutku dengan memanggil nama
> kesayangannya "Ayah"
> "Lusa kita siap - siap ke Sabang ya !" Jawabnya
> tegas
> " Ada apa ?" Mengapa ?" sahutku penuh dengan
> keheranan
> Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar,
> diya
> mebentakku,, tak ada lagi diskusi anatara kami.
> Dia mengatakan " Kau ikut saja jgn byk tanya !!!
> Aku pun lalu mengemasi barang - barang yang akan dibawa ke
> Sabang sambil
> menangis,sedih karena
> suamiku yang tak ku kenal lagi.
> 2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun
> pula ia menjadi
> orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat
> penuh cinta yang
> dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin,
> sangat dingin dari
> batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya
> aku berontak
> tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang
> kasar, ngomong
> dengan nada tinggi, suka membanting barang - barang, dia
> bilang
> perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Aku
> hanya bisa
> bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku
> ini sendiri.
> ************ ********* ********* ********* *********
> ********* ********* ********* *********
> Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena
> semalaman aku
> tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya
> telah berkumpul
> disana, termasuk ibu & adik - adiknya, aku tidak tahu
> ada
> acara apa
> ini..
> Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah
> didalam kamar
> tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
> Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya
> ke dlm
> lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu
> telah ada
> sebelum suamiku lahir.
> Tiba - tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku
> memanggil ku untuk
> segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga
> yag berada di
> tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda
> diaman langit -
> langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping suamiku,
> suamiku
> menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya
> pada nya, tiba -
> tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan
> paling berhak
> atas semuanya membuka pembicaraan.
> "Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin
> bicara dengan kau
> Fisha ! " Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot
> mata yang
> tajam.
> " Ada apa ya Nek ?" sahutku dengan penuh tanya..
> Nenek pun menjawab " Kau telah gabung dengan keluarga
> kami hampir 8
> tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda - tanda
> kehamilan yang
> sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran !!'
> Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk
> dihina atau di
> pisahkan dengan suamiku.
> "Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari
> dulu, sebelum kau
> menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak
> mau di atur,
> dan akhirnya menikahlah ia dengaa kau." Neneknya
> berbicara sangat
> lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
> Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang
> kosong matanya.
> "Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah
> berkenalan dengannya"
> Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
> Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air
> matanya. Ingin
> aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua
> ini, tapi aku tak punya
> keberanian..
> Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang
> terakhir dari
> pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia
> berkata " kau
> mau nya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?"
> Masya Allah...... kuat kan hati ini, aku ingin jatuh
> pingsan, hati ini
> seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa
> keluarganya bersikap
> seperti ini terhadapku..
> Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang
> tinggal di
> pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2
> tahun
> belakangan ini.
> "Fish, jawab !! " Dengan tegas Ibunya langsung
> memintaku untuk menjawab
> Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang
> dingin dan
> gemetar aku menjawab dengan tegas....... ..
> " Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan
> imamku, tapi aku dapat
> berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan
> masa depan
> keluarga ini, aku akan
> menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami."

CONTINUED.

Guestbook

Post Comment
Subject:
Body:
                  
Love Myspace Comments